#LembarAkhlak
ARSIP SERI
ARS-TZH-1448.II.21
KETIKA CANDAAN MULAI MELEWATI BATAS
Bercanda merupakan bagian dari kehidupan seorang muslim. Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bercanda dengan para sahabatnya. Namun, tidak semua candaan membawa kebaikan. Ketika candaan mulai melewati batas, ia dapat berubah dari sesuatu yang menyenangkan menjadi sumber berbagai keburukan.
Keseimbangan dalam bercanda telah diajarkan oleh para ulama sejak generasi terdahulu. Di antara nasihat yang patut direnungkan dalam masalah ini ialah perkataan Sa'id bin al-'Ash rahimahullah kepada putranya:
اقْتَصِدْ فِي مُزَاحِكَ؛ فَإِنَّ الْإِفْرَاطَ فِيهِ يُذْهِبُ الْبَهَاءَ، وَيُجَرِّئُ عَلَيْكَ السُّفَهَاءَ، وَإِنَّ التَّقْصِيرَ فِيهِ يَفُضُّ عَنْكَ الْمُؤَانِسِينَ، وَيُوحِشُ مِنْكَ الْمُصَاحِبِينَ
"Bercandalah secukupnya. Sebab, berlebihan dalam bercanda akan menghilangkan kewibawaan dan mendorong orang-orang yang bodoh berlaku lancang kepadamu. Sebaliknya, terlalu sedikit bercanda akan membuat orang-orang yang senang bersamamu menjauh dan membuat teman-temanmu merasa asing terhadapmu."¹
Melalui nasihat ini, Sa'id bin al-'Ash mengajarkan bahwa bercanda memiliki adab yang perlu dijaga. Yang beliau ingatkan bukanlah candaannya, melainkan ketika candaan mulai melewati batas. Sebab, berlebihan dalam bercanda dapat menghilangkan kewibawaan, sedangkan terlalu sedikit bercanda dapat membuat hubungan dengan orang lain terasa kaku. Karena itu, seorang muslim hendaknya mengetahui kapan saatnya bercanda dan kapan saatnya bersikap serius.
Agar lebih mudah dipahami, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah (w. 1421 H) memberikan sebuah perumpamaan yang sangat menarik. Beliau berkata:
وَلِهَذَا يُقَالُ: الْمَزْحُ فِي الْكَلَامِ كَالْمِلْحِ فِي الطَّعَامِ، إِنْ خَلَا مِنْهُ الطَّعَامُ فَقَدَ جُزْءًا كَبِيرًا مِنَ الطَّعْمِ اللَّذِيذِ، وَإِنْ كَثُرَ أَيْضًا فَسَدَ. وَلِهَذَا اجْعَلِ الْمَزْحَ مَوْزُونًا فِي مَحَلِّهِ، لَا تَمْزَحْ فِي مَوْضِعِ الْجِدِّ، وَلَا تَجِدْ فِي مَوْضِعِ الْمَزْحِ، وَالْإِنْسَانُ الْحَكِيمُ الْعَاقِلُ يُنَزِّلُ كُلَّ حَالٍ مَنْزِلَتَهَا
"Candaan dalam sebuah pembicaraan diibaratkan seperti garam pada makanan. Apabila makanan tidak diberi garam, ia akan kehilangan sebagian besar kelezatannya. Namun, apabila garamnya berlebihan, justru cita rasa makanan itu menjadi rusak. Karena itu, jadikanlah candaan sesuai dengan porsinya. Jangan bercanda pada saat yang menuntut keseriusan, dan jangan pula bersikap terlalu serius pada saat yang semestinya diisi dengan candaan. Orang yang bijaksana adalah orang yang mampu menempatkan setiap keadaan pada tempatnya."²
Perumpamaan ini sangat indah. Sebagaimana garam menjadikan makanan terasa lebih nikmat apabila digunakan secukupnya, demikian pula candaan. Candaan dapat menghangatkan suasana dan mempererat persaudaraan. Namun, sebagaimana garam yang berlebihan merusak cita rasa makanan, candaan yang berlebihan pun dapat menghilangkan kewibawaan dan merenggangkan hubungan dengan orang lain.
Tidak semua yang membuat orang tertawa membawa kebaikan. Candaan yang baik bukanlah candaan yang paling banyak mengundang tawa, tetapi candaan yang tetap menjaga adab, kehormatan, dan perasaan orang lain.